• SMP NEGERI 4 KOTA MAGELANG
  • SANTUN YANG CERDAS

HENTIKAN BULLYING/PERUNDUNGAN

Pengertian Bullying

Bullying adalah tindakan penggunaan kekuasaan untuk menyakiti seseorang atau sekelompok orang baik secara verbal, fisik, maupun psikologis sehingga korban merasa tertekan, trauma, dan tak berdaya. Kata bullying berasal dari Bahasa Inggris, yaitu dari kata bull yang berarti banteng yang senang merunduk kesana kemari. Dalam Bahasa Indonesia, secara etimologi kata bully berarti penggertak, orang yang mengganggu orang lemah.

Pelaku bullying yang biasa disebut bully bisa seseorang, bisa juga sekelompok orang, dan ia atau mereka mempersepsikan dirinya memiliki power (kekuasaan) untuk melakukan apa saja terhadap korbannya. Korban juga mempersepsikan dirinya sebagai pihak yang lemah, tidak berdaya dan selalu merasa terancan oleh bully.

Nah, untuk memahami secara langsung, kita dapat memahami tiga komponen utama yang ada pada bullying. Pertama, Power imbalance atau kekuatan yang tidak seimbang. Kedua, Repetitive actions atau melakukan sesuatu yang berulang. Ketiga, Intentional actions atau tindakan yang disengaja.

 

3 Komponen Penting Bullying

Kekuatan yang tidak seimbang (power imbalance)

Ketika ada ketidakseimbangan kekuatan, sulit bagi target untuk mempertahankan dirinya terhadap serangan pelaku. Perbedaan kekuatan ini bisa secara fisik atau psikologis. Misalnya, dalam kasus-kasus ketidakseimbangan fisik, pelaku bullying mungkin lebih tua, lebih besar, atau lebih kuat. Atau, mungkin ada geng pengganggu yang menargetkan korban.

Sementara itu, ketidakseimbangan psikologis lebih sulit untuk dibedakan, tetapi contohnya termasuk memiliki status sosial yang lebih tinggi, cerewet, atau lebih banyak pengaruh di sekolah. Akibat dari ketidakseimbangan kekuatan membuat target intimidasi terasa lemah, tertindas, terancam, dan rentan diserang.

Sesuatu yang berulang (repetitive actions)

Biasanya, bullying bukanlah tindakan kejam atau perilaku kasar. Sebaliknya, itu biasanya berkelanjutan dan terus menerus diulang. Pengganggu sering menargetkan korban mereka beberapa kali.

Tindakan yang disengaja (intentional actions)

Aspek lain yang membedakan pelaku bullying dari perilaku jahat atau kasar lainnya adalah  pelaku bullying bermaksud untuk melukai target. Pengganggu melecehkan orang lain dengan sengaja.

 

Jenis-Jenis Bullying

Bullying juga terjadi dalam beberapa bentuk tindakan. Menurut Coloroso (2007), bullying dibagi menjadi empat jenis, yaitu:

a. Bullying Fisik

Penindasan fisik merupakan jenis bullying yang paling tampak dan paling dapat diidentifikasi diantara bentuk-bentuk penindasan lainnya, namun kejadian penindasan fisik terhitung kurang dari sepertiga insiden penindasan yang dilaporkan oleh siswa. Jenis penindasan secara fisik di antaranya adalah memukul, mencekik, menyikut, meninju, menendang, menggigit, memiting, mencakar, serta meludahi anak yang ditindas hingga ke posisi yang menyakitkan, serta merusak dan menghancurkan pakaian serta barangbarang milik anak yang tertindas. Semakin kuat dan semakin dewasa sang penindas, semakin berbahaya jenis serangan ini, bahkan walaupun tidak dimaksudkan untuk mencederai secara serius.

b. Bullying Verbal

Kekerasan verbal adalah bentuk penindasan yang paling umum digunakan, baik oleh anak perempuan maupun anak laki-laki. Kekerasan verbal mudah dilakukan dan dapat dibisikkan dihadapan orang dewasa serta teman sebaya, tanpa terdeteksi.

Penindasan verbal dapat diteriakkan di taman bermain bercampur dengan hingar bingar yang terdengar oleh pengawas, diabaikan karena hanya dianggap sebagai dialog yang bodoh dan tidak simpatik di antara teman sebaya. Penindasan verbal dapat berupa julukan nama, celaan, fitnah, kritik kejam, penghinaan, dan pernyataan-pernyataan bernuansa ajakan seksual atau pelecehan seksual. Selain itu, penindasan verbal dapat berupa perampasan uang jajan atau barang-barang, telepon yang kasar, e-mail yang mengintimidasi, surat-surat kaleng yang berisi ancaman kekerasan, tuduhan-tuduhan yang tidak benar, kasak-kusuk yang keji, serta gosip.

c. Bullying Relasional

Jenis ini paling sulit dideteksi dari luar. Penindasan relasionaladalah pelemahan harga diri si korban penindasan secara sistematis melalui pengabaian, pengucilan, pengecualian, atau penghindaran. Penghindaran, suatu tindakan penyingkiran, adalah alat penindasan yang terkuat.

Anak yang digunjingkan mungkin akan tidak mendengar gosip itu, namun tetap akan mengalami efeknya. Penindasan relasional dapat digunakan untuk mengasingkan atau menolak seorang teman atau secara sengaja ditujukan untuk merusak persahabatan. Perilaku ini dapat mencakup sikap-sikap tersembunyi seperti pandangan yang agresif, lirikan mata, helaan napas, bahu yang bergidik, cibiran, tawa mengejek, dan bahasa tubuh yang kasar.

d. Cyber bullying

Ini adalah bentuk bullying yang terbaru karena semakin berkembangnya teknologi, internet dan media sosial. Pada intinya adalah korban terus menerus mendapatkan pesan negatif dari pelaku bullying baik dari whatsapp, pesan di internet dan media sosial lainnya. Bentuknya seperti, mengirim pesan yang menyakitkan atau menggunakan gambar, meninggalkan pesan voicemail yang kejam, menelepon terus menerus tanpa henti namun tidak mengatakan apa-apa (silent calls), membuat website yang memalukan bagi si korban, si korban dihindarkan atau dijauhi dari chat room dan lainnya, dan “Happy slapping” – yaitu video yang berisi dimana si korban dipermalukan.

 

Dampak Bullying bagi Korban

Menurut Iswan Saputro, M.Psi., Psikolog, dampak bullying bagi korban itu sangat beragam. Berikut di antaranya:

1. Rentan Merasakan Emosi

Aspek emosional menjadi salah satu dampak bullying verbal yang dapat dirasakan oleh korban. Biasanya, korban perundungan rentan mengalami emosi seperti takut, sedih, dan marah.

Dampak bullying menurut para ahli ini bisa berlanjut pada munculnya gejala depresi, gangguan pencernaan, atau gangguan beradaptasi bagi korban bullying.

2. Sulit Berkonsentrasi

Disampaikan Psikolog Iswan, dampak kognitif dari perilaku bullying dapat membuat korban sulit berkonsentrasi dan memproses hal baru. Karena adanya rasa cemas, ini juga membuat korban sulit untuk membuat keputusan dan menghindari konflik. Bahkan, dampak bullying bagi siswa juga akan membuat korban kesulitan dalam mengikuti proses pembelajaran di sekolah. Selain terjadi pada korban, ini juga bisa menjadi dampak bullying bagi saksi yang melihat peristiwa perundungan.

3. Tidak Percaya Diri

Dampak bullying bagi masyarakat juga bisa membuat korban tidak percaya diri. Ketika bullying yang dialami adalah kekerasan fisik, tentu bekas-bekas luka yang didapatkan dari perilaku perundungan dapat menyisakan pengalaman traumatis.“Misalnya, bekas luka pada bagian tubuh tertentu yang membuat korban menjadi tidak percaya diri. Contohnya luka pada wajah yang menyebabkan korban merasa tidak cantik atau tidak tampan dibanding teman-temannya,” tutur Psikolog Iswan.Selain itu, dampak bullying seksual juga bisa memunculkan perasaan rendah diri dan tidak berharga.

4. Masalah Fisik

Karena menurunnya kepercayaan diri akibat kondisi fisik, ini juga bisa memunculkan gejala-gejala psikosomatis. Gangguan psikosomatis merupakan kondisi di mana munculnya penyakit fisik akibat pikiran atau emosi yang dirasakan korban.

Gejala psikosomatis yang bisa muncul adalah gastroesophageal reflux disease (GERD), tremor, atau mimisan. Menurut Iswan, ini terjadi karena korban dikuasai oleh emosi negatif, seperti takut, cemas, dan sedih.

5. Menarik Diri dari Lingkungan

Dampak bullying juga bisa terjadi pada aspek sosial. Biasanya, korban bullying akan menarik diri dari lingkungan sosial karena takut akan mendapatkan perlakuan yang sama.

Kondisi tersebut juga bisa menjadi dampak bullying di media sosial atau cyber bullying. Korban biasanya akan menarik diri dari lingkungan dan tidak akan menggunakan media sosial tertentu karena merasa takut dan cemas.

6. Sulit Membentuk Hubungan

Dalam jangka panjang, dampak bullying dapat membuat korban sulit membentuk hubungan yang saling percaya. Pasalnya, korban biasanya memiliki trust issue terhadap kelompok atau seseorang yang dekat dengan pelaku.

Misalnya, ia pernah dirundung oleh kakak tingkat. Hal ini akan membuat korban memiliki trust issue untuk berinteraksi atau satu tim dengan orang yang lebih tua.

7. Memicu Terjadinya Gangguan Mental

Dampak bullying non verbal, verbal, atau fisik dapat memicu terjadinya gangguan mental. Berdasarkan buku yang berjudul Preventing Bullying Through Science, Policy, and Practice, peristiwa kehidupan yang membuat stres, seperti korban perundungan, dapat menyebabkan timbulnya gangguan mental seperti depresi, kecemasan, dan gejala kejiwaan. Bahkan, ini juga bisa memunculkan keinginan bunuh diri yang tinggi dan peningkatan tekanan emosional.

 

Dampak Bullying bagi Pelaku

Selain pada korban, dampak bullying juga sebenarnya bisa terjadi pada pelaku. Menariknya, pelaku bisa tidak menyadari dampak psikologis yang dirasakan dari perilaku perundungan yang dilakukan. Berikut beberapa dampak bullying bagi pelaku:

1. Terbiasa Melakukan Aktivitas Impulsif

Dijelaskan Psikolog Iswan, perilaku bullying dapat membuat pelaku terbiasa melakukan aktivitas atau pola yang impulsif.

Ini merupakan perilaku atau tindakan yang tidak diikuti dengan pemikiran tentang konsekuensi atau dampak kedepannya. Umumnya, pelaku lebih mengutamakan kondisi emosi dan keinginan sesaatnya.

2. Empati yang Semakin Tumpul

Dampak bullying verbal bagi pelaku dapat membuat empati yang semakin lama semakin tumpul. Soalnya, pelaku bullying tidak mempedulikan kondisi korbannya. “Pelaku bullying biasanya lebih menyukai korbannya menderita atau merasakan kesengsaraan dalam waktu tertentu. Hal ini bisa menumpulkan kemampuan mereka dalam berempati,” jelas Psikolog Iswan.

3. Meningkatnya Perilaku Agresif

Menurut Iswan, pelaku bullying yang tidak tertangani atau tidak mendapatkan pendampingan akan menganggap bahwa pukulan kekerasan verbal maupun non-verbal sebagai salah satu cara untuk mendapatkan apa yang mereka inginkan.

4. Muncul Perilaku Antisosial yang Semakin Parah

Dampak bullying bagi pelaku juga dapat memunculkan perilaku antisosial yang lebih parah, baik itu mencuri hingga membunuh. Pelaku merasa tidak memiliki norma atau aturan dalam berperilaku, terlebih lagi ia tidak mendapatkan pendampingan. Hal ini membuat aktivitas agresif bisa berkembang menjadi lebih buruk.

5. Mendapatkan Label Negatif

Secara pergaulan, pelaku perundungan juga mendapatkan label negatif dari lingkungan sekitarnya. Kondisi ini membuat pelaku tidak mendapatkan teman-teman yang baik atau support system yang baik karena perilakunya sendiri yang disruptif.

Mari kita hentikan bullying/perundungan, budayakan menjadi peserta didik SMP Negeri 4 Kota Magelang yang santun dan cerdas.

Referensi:

Coloroso, B. (2007). The Bully, The Bullied, and The Bystander. New York: HarperCollins. 
https://www.indopositive.org/2020/04/perundungan-bullying-pengertian.html
https://www.klikdokter.com/psikologi/kesehatan-mental/dampak-bullying-korban-dan-pelaku

Komentari Tulisan Ini
Tulisan Lainnya
PENGUMUMAN SPMB 2026

       

11/06/2026 18:55 WIB - Administrator
INFO PENTING SPMB 2026

09/06/2026 16:01 WIB - Administrator
JUKNIS SPMB SMPN 4 MAGELANG TAHUN 2026

07/06/2026 15:37 WIB - Administrator
PENGUMUMAN HASIL TO TKA 2026

14/02/2026 12:52 WIB - Administrator
INFORMASI TRYOUT SD/MI 2026

   

12/02/2026 20:18 WIB - Administrator
PENGUMUMAN SPMB 2025

         

23/05/2025 21:18 WIB - Administrator
JUKNIS SPMB SMPN 4 MAGELANG TAHUN 2025

13/05/2025 17:38 WIB - Administrator
PENGUMUMAN HASIL LOMBA HUT SPENAPA TAHUN 2025

1. HASIL TRY OUT TINGKAT SD/MI TAHUN 2025     2. HASIL LOMBA MEWARNAI TINGKAT TK   3. HASIL LOMBA MEWARNAI TINGKAT SD 4. HASIL LOMBA

22/02/2025 14:15 WIB - Administrator
PENGUMUMAN PPDB REGULER TAHUN 2024

INFO PENGUMUMANPPDB REGULER 2024SMP NEGERI 4 MAGELANG    Pengumuman PPDB Reguler SMP Negeri 4 Magelang akan dilaksanakan pada hari Sabtu, 30 maret 2024 pukul 09.00 WIB. P

29/03/2024 22:41 WIB - Administrator
JUKNIS PPDB REGULER TAHUN 2024

PETUNJUK TEKNIS PENERIMAAN PESERTA DIDIK BARU (PPDB) REGULERSMP NEGERI 4 MAGELANGTAHUN PELAJARAN 2024/2025   Berdasarkan Petunjuk Teknis Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) Tam

23/03/2024 10:54 WIB - Administrator